Ini tulisan pertamaku yang diterbitkan dalam buku antalogi bersama grup kepenulisan es campur yang berjudul pengalaman pertama.
Wajar jika aku tak bisa memasak. Dari kecil tak terbiasa dengan hal ini. Di rumah Mamah yang selalu menyiapkan makanan buatku dan keluargaku. Bukan tak mau, tapi Mamah memang menyuruhku untuk lebih memperhatikan tugasku, belajar.
Wajar jika aku tak bisa memasak. Dari kecil tak terbiasa dengan hal ini. Di rumah Mamah yang selalu menyiapkan makanan buatku dan keluargaku. Bukan tak mau, tapi Mamah memang menyuruhku untuk lebih memperhatikan tugasku, belajar.
“Nanti juga bisa sendiri.”
Selalu hal ini yang Mamah ucapkan. Padahal
sebenarnya niatku baik, hanya ingin membantu. Itu saja.
Terkadang aku berpikir, mungkin karena
terlalu cerewet, ketika Mamah memasak. Tanya bumbu, tanya cara peracikan, tanya ini, tanya itu. Yah, sepertinya memang begitu. Dan keberadaanku di dapur hanya mengganggu konsentrasi Mamah. Dan selanjutnya aku pun akan memilih bercengkrama dengan buku ketika kutahu tatapan Mamah mulai menusuk hatiku.
terlalu cerewet, ketika Mamah memasak. Tanya bumbu, tanya cara peracikan, tanya ini, tanya itu. Yah, sepertinya memang begitu. Dan keberadaanku di dapur hanya mengganggu konsentrasi Mamah. Dan selanjutnya aku pun akan memilih bercengkrama dengan buku ketika kutahu tatapan Mamah mulai menusuk hatiku.
Dan ini bukanlah masalah. Aku memang
sependapat dengan Mamah, memasak itu gampang, apalagi sekarang ini banyak
sekali bumbu instan siap pakai, tanpa perlu meraciknya terlebih dahulu. Dan aku
tak pernah mengkhawatirkan masa depanku, karena bila aku menikah, jika memang tak bisa memasak, aku bisa membeli aneka masakan siap santap di
warung-warung nasi .
Tapi ternyata dugaanku salah besar. Setelah menikah. Aku dihadapkan pada sebuah
kenyataan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Seminggu sesudah mengikrarkan
janji, Suami mengajak tinggal di rumah kontrakkannya. Dan di sinilah awal
segala cerita lucu sekaligus menyedihkan buatku.
Suatu ketika, Suami pulang dengan membawa bahan
mentah sayuran.
“Mi, abi mau makan sup buatan umi, umi bisa membuatnya
bukan? Ini bahan-bahannya sudah Abi beli dari warungnya Pak Aca, kalau ada yang
kurang nanti umi tinggal bilang saja sama abi yah?”
Terdiam. Tak berani jujur padanya, dengan
mengatakan perihal sebenarnya. Aku tidak bisa memasak. Tapi tanpa berpikir
panjang lagi, segera kuturuti keinginannya. Aku senang, tapi takut, ini
adalah eksperimen pertama sekaligus tantangan buatku.
Dan inilah pengalaman pertama memasak bagiku. Untuk
masalah pencucian dan pemotongan sayuran sangat mudah kulakukan. Tapi bagaimana
dengan cara pengolahannya.
Dengan sigap, kunyalakan kompor, memasukkan
sayuran yang sudah kupotong dalam air panci sedang. Setelah mendidih, aku tambahkan
bumbu pelezat makanan.
“Hmmm, wanginya enak, ternyata gampang juga yah,
pikirku.”
Sekonyong-konyong suamiku telah berada dibelakangku.
“Wah sudah masak rupanya, aku cicipi boleh yah?”
“Hm, hm, tidak hm, hm, yah, yah boleh.” Gugup aku
menjawabnya.
Jantungku berdebar-debar, ketika kulihat suamiku
dengan cekatan mengambil satu sendok kuah sup buatanku.
“Hm, bagaimana Bi rasanya?.”
Suamiku hanya berdiri mematung, tanpa menunjukkan
ekspresi apa pun. Dingin.
“Mi, abi keluar dulu yah, abi jadi teringat goreng
ikan mas untuk menambah menu sup ini, bentar yah, abi beli dulu.”
Hari itu suamiku makan dengan lahap, ikan mas goreng
dan sup pertamaku. Aku tersenyum puas, ternyata makananku disukainya juga.
“Mi kenapa
tidak makan, ayo dicoba sup buatan umi sendiri.”
“Iya Bi ini juga mau makan.”
Aku memamerkan piring dan sendok kosong yang baru
saja kupegang.
“Bi, ko rasa supnya aneh begini yah. Ga enak sama
sekali.”
Suamiku hanya tersenyum. Aku tertunduk malu. Aku
benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa Maluku. Karena untuk membuat sup
saja aku tak bisa.
Aku malu, sedih. Rindu Melati seorang mahasiswi teladan ternyata untuk membuat masakan
semudah sup saja tidak bisa. Apalah artinya ilmu yang tinggi, sedangkan ilmu
kehidupan pun tak aku kuasai.
Untungnya suamiku mau memahamiku. Dia hanya
menyarankan agar aku belajar dari tantenya. Suamiku berpesan agar aku tak
malu-malu bertanya tentang apa saja yang tidak aku pahami.
Kini, bukan sup saja yang sudah pandai kubuat, rendang,
semur, pepes, bahkan kue-kue kering pun aku bisa. Dan aku hanya bisa tertawa
mengingat hal itu. Sup pertamaku yang hanya kubuat dengan bumbu pelezat instan
tanpa rempah-rempah dapur. Aku tertawa
mengingat diri yang menganggap sepele keterampilan memasak. Padahal bagi wanita
mau bagaimana pun sukses karir dan pendidikannya, pasti suatu saat dia akan
bergaul di dapur dengan segala macam sayur dan bumbu dapur.

