SUP PERTAMAKU (Salah satu tulisan dalam buku antologi "Pengalaman Pertama)

By Wien - 21.27






SUP PERTAMAKU

Penulis : Wien


Ini tulisan pertamaku yang diterbitkan dalam buku antalogi bersama grup kepenulisan es campur yang berjudul pengalaman pertama. 


Wajar jika aku tak bisa memasak. Dari kecil tak terbiasa dengan hal ini. Di rumah Mamah yang selalu menyiapkan makanan buatku dan keluargaku. Bukan tak mau, tapi Mamah memang menyuruhku untuk lebih memperhatikan tugasku, belajar.

“Nanti juga bisa sendiri.”

Selalu hal ini yang Mamah ucapkan. Padahal sebenarnya niatku baik, hanya ingin membantu. Itu saja.
Terkadang aku berpikir, mungkin karena 
terlalu cerewet, ketika Mamah memasak. Tanya bumbu, tanya cara peracikan, tanya ini, tanya itu. Yah, sepertinya memang begitu. Dan keberadaanku di dapur hanya mengganggu konsentrasi Mamah. Dan  selanjutnya aku pun akan memilih bercengkrama dengan buku ketika kutahu tatapan Mamah mulai menusuk hatiku.

Dan ini bukanlah masalah. Aku memang sependapat dengan Mamah, memasak itu gampang, apalagi sekarang ini banyak sekali bumbu instan siap pakai, tanpa perlu meraciknya terlebih dahulu. Dan aku tak pernah mengkhawatirkan masa depanku, karena bila aku menikah, jika memang  tak bisa memasak, aku bisa membeli aneka masakan siap santap di warung-warung nasi .

Tapi ternyata dugaanku salah besar. Setelah menikah. Aku dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Seminggu sesudah mengikrarkan janji, Suami mengajak tinggal di rumah kontrakkannya. Dan di sinilah awal segala cerita lucu sekaligus menyedihkan buatku.

Suatu ketika, Suami pulang dengan membawa bahan mentah sayuran.
“Mi, abi mau makan sup buatan umi, umi bisa membuatnya bukan? Ini bahan-bahannya sudah Abi beli dari warungnya Pak Aca, kalau ada yang kurang nanti umi tinggal bilang saja sama abi yah?”

Terdiam. Tak berani jujur padanya, dengan mengatakan perihal sebenarnya. Aku tidak bisa memasak. Tapi tanpa berpikir panjang lagi, segera kuturuti keinginannya. Aku senang, tapi takut, ini adalah eksperimen pertama sekaligus tantangan buatku.

Dan inilah pengalaman pertama memasak bagiku. Untuk masalah pencucian dan pemotongan sayuran sangat mudah kulakukan. Tapi bagaimana dengan cara pengolahannya.

Dengan sigap, kunyalakan kompor, memasukkan sayuran yang sudah kupotong dalam air  panci sedang. Setelah mendidih, aku tambahkan bumbu pelezat makanan.

“Hmmm, wanginya enak, ternyata gampang juga yah, pikirku.”
Sekonyong-konyong suamiku telah berada dibelakangku.

“Wah sudah masak rupanya, aku cicipi boleh yah?”

“Hm, hm, tidak hm, hm, yah, yah boleh.” Gugup aku menjawabnya.

Jantungku berdebar-debar, ketika kulihat suamiku dengan cekatan mengambil satu sendok kuah sup buatanku.

“Hm, bagaimana Bi rasanya?.”

Suamiku hanya berdiri mematung, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Dingin.

“Mi, abi keluar dulu yah, abi jadi teringat goreng ikan mas untuk menambah menu sup ini, bentar yah, abi beli dulu.”

Hari itu suamiku makan dengan lahap, ikan mas goreng dan sup pertamaku. Aku tersenyum puas, ternyata makananku disukainya juga.

 “Mi kenapa tidak makan, ayo dicoba sup buatan umi sendiri.”

“Iya Bi ini juga mau makan.”

Aku memamerkan piring dan sendok kosong yang baru saja kupegang.

“Bi, ko rasa supnya aneh begini yah. Ga enak sama sekali.”

Suamiku hanya tersenyum. Aku tertunduk malu. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa Maluku. Karena untuk membuat sup saja aku tak bisa.

Aku malu, sedih. Rindu Melati seorang mahasiswi  teladan ternyata untuk membuat masakan semudah sup saja tidak bisa. Apalah artinya ilmu yang tinggi, sedangkan ilmu kehidupan pun tak aku kuasai.
Untungnya suamiku mau memahamiku. Dia hanya menyarankan agar aku belajar dari tantenya. Suamiku berpesan agar aku tak malu-malu bertanya tentang apa saja yang tidak aku pahami.

Kini, bukan sup saja yang sudah pandai kubuat, rendang, semur, pepes, bahkan kue-kue kering pun aku bisa. Dan aku hanya bisa tertawa mengingat hal itu. Sup pertamaku yang hanya kubuat dengan bumbu pelezat instan tanpa  rempah-rempah dapur. Aku tertawa mengingat diri yang menganggap sepele keterampilan memasak. Padahal bagi wanita mau bagaimana pun sukses karir dan pendidikannya, pasti suatu saat dia akan bergaul di dapur dengan segala macam sayur dan bumbu dapur.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar