(Dimuat di Annida Online 22 Apr 2013 )

Penulis : Wien
“Plaaakkk!
“Plaaaaaaakkkkkkk!”
Untuk kesekian kalinya kau sakiti aku. Kau campakkan diriku begitu saja. Tanpa perasaan. Manusia seperti apakah kau? Dengan teganya, kau usir aku dari rumahmu. Padahal aku temanmu yang selalu setia. Dan akan tetap setia. Bagaimanapun keadaanmu.
“Cukup, Nurani! Cukup sehari saja! Sekarang aku memang terbelenggu rantai-rantai kebiadabanmu. Tapi lihat saja nanti. Akan kutebas semua mimpimu! Akan kujadikan kau budak setiaku sampai mati! Camkan baik-baik! Kau akan jadi budakku sampai matiiii!”
***
“Hey, mengapa kau tak mau lagi berteman denganku?”
Kau berubah. Apa yang terjadi sebenarnya denganmu? Aku hampir tak mengenalimu. Kau memang Nuraniku yang dulu, masih cantik, periang, manja, tapi mengapa kau berjubah seperti itu? Jadi kurang menarik. Teman laki-lakimu juga pasti akan menjauhimu. Mereka pasti berpikir kamu ikut-ikutan jadi norak dan udik seperti Annisa yang aktifis rohis itu. Sok suci.
“Ke mana Nurani yang dulu?”
“Tapi aku tetap setia untukmu, aku tak akan pergi.“
Bagaimanapun keadaanmu hari ini. Aku kan selalu bersamamu. Aku akan selalu menjadi pendengar setiamu. Jadi jangan kau ragu kalau kau ada masalah, bisa bicara lagi padaku. Aku siap membantumu seperti dulu, ingin menjadi bagian hidupmu. Bersatu padu dalam darahmu. Menjadi dagingmu, hembusan nafas, bahkan kalau bisa menjadi “otak” kebengisanmu, kemunafikan atau apapun sesuai keinginanmu. Aku benar-benar Ingin menjadi temanmu, bahkan kalau bisa lebih.
“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, itu saja. Mengapa kau tak mengerti?”
Kamu kira perbuatanku selama ini salah. Pekataanku bohong. Tidak. Tak seperti dugaanmu. Aku bukan penjahat. Kelas kakap, kelas teri pun tidak. Aku bukan perampok, tapi kalau perampok hatimu, iya. Aku bukan pembunuh, tapi pembunuh waktumu, itu juga iya. Aku bukan pembohong, tapi penggombal hanya karena ingin perhatianmu, yah pasti dong. Aku juga bukan penjilat tapi penjilat kesenanganmu, ya iya lah masa iya-iya dong. Eits, jangan ngambek dulu, maksudku aku senang jika kau senang, dan sebaliknya. Gitooo. Dalam setiap denyutan jantung bahagiamu, ada aku mencicipi lezatnya kebusukan niatmu. Langkahku selalu mengiringimu dalam setiap waktu. Kau puas tertawa, aku semakin bahagia. Kau puas dalam gemilang dosa atau harta orang tua yang kau habiskan sia-sia, maka aku semakin terbang mengudara. Selama nadimu berdenyut, aku ada. Setia, hingga batas tiba.
***
“Ah, tapi sayang kau berubah.”
Nggak asyik. Nggak rame. Seperti hari ini, masa kau ajak aku ke tempat ini sih. Bukannya shopping, hunting barang-barang baru, atau nongkrong bareng Sisi and Mona, kita ngegosip lagi.
Aku nggak suka. Bukankah kau sudah tahu, aku benci semua ini. Berada di dalam ruangan luas bersama teman-teman aktivis barumu. Mentoring, diskusi, apaan sih. Nggak berguna sama sekali.
“Bukan itu saja, sekarang kau tega sekali yah mengusirku, kau sudah tak mau bersamaku lagi yah, apa salahku?”
Kau hardik aku dengan perkataan sekeji-kejinya. Hanya karena aku bilang semua itu menjemukan. It’s no fun, no happy. Kau malah menjauhiku. Ada apa denganmu? Kau lebih senang bercengkrama bersama mereka. Bukankah mereka yang dulu suka sekali memandang sebelah mata padamu? Mereka menganggapmu gadis murahan, tak punya iman. Tak bermoral.
"Nurani, ayo kita pulang, bosan kalau lama-lama di sini?”
Kamu menatapku tajam. Lebih tajam daripada pedang. Apa perkataanku salah? Tidak, bukan. Memang faktanya ini sama sekali tak menyenangkan. Menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk membahas masalah gaib yang mungkin saja tak terjadi. Bukankah kau bilang, semua itu dongeng belaka? Mana ada orang mati bisa hidup kembali, utuh, padahal berpuluh-puluh tahun sudah jadi tulang belulang yang tak beraturan. Mustahil.
Kamu kembali membentakku. Sadarlah Nur, kita hidup di zaman realistis. Bukan di negeri dongeng. Mengapa kau mau saja dibohongi dengan iming-iming pahala yang besar? Hanya karena kau menjaga lisan dan hatimu. Itu sih hanya bisa-bisanya mereka saja, yang jelas doktrin itu hendak memenjarakanmu di dunia. Tak bebas. Hidup hanya sekali. Mengapa kau buat susah hidupmu sendiri dengan aturan-aturan yang tak jelas?
Kamu membuang muka. Ah, Nurani, tak jelaskah semua perkataan temanmu ini? Mengapa kau tak peduli lagi padaku? Kau memang benar-benar telah berubah. Tapi tak akan menyerah. Aku akan merebut hatimu lagi. Perhatianmu. Lihat saja.
Sekarang, aku memang mulai lemah. Ini semua gara-gara kamu. Tapi bisa juga karena aku lapar. Seharian ini perutku belum diisi apa-apa. Kau tak mentraktirku seperti biasanya. Katanya kau puasa. Aneh juga sih, kau yang berpuasa mengapa aku yang loyo?
Tiba giliran makan, kau malah pakai acara doa-doa segala. Ih bener-bener membuat selera makanku hilang. Meskipun aku lapar, aku nggak mau makan bila harus seperti ini.
“Hey, mau ngapain lagi kamu?”
Setelah seharian beraktifitas yang katanya diniatkan ibadah olehmu, kau malah luangkan waktu untuk rukuk dan sujud begitu. Apa nggak cape yah? Aku kembali ditinggal sendirian. Lama-lama tinggal di rumahmu seperti dalam penjara saja. Aku kesepian, aku butuh kau, Nur. Mana cerita-cerita seru tentang teman-temanmu lagi? Walaupun aku tahu ceritamu itu terkadang tak sesuai fakta, tapi aku suka melihatmu tertawa lepas menertawakan mereka. Atau senyum puas karena telah menggosipkannya. Nur, ayo cerita lagi, aku suka dengan gaya bicaramu. Racikan bumbu kata-katamu itu sungguh lezat sekali.
“Hey, Nur mengapa kau matikan telivisinya?”
Ayolah Nur, masa nggak boleh memanjakan mata semenit pun? Filmnya lagi rame nih. Pengantar mimpi malam yang indah. Ayolah Nur, sudah seharian aku mengikutimu, ayo kita nonton bareng-bareng, biar otak bisa kembali fresh. Hey Nur, mengapa kau tidur sebelum waktunya? Biasanya kan online dulu. Tengoklah sebentar facebook dan twittermu. Ada berita heboh apa nih? Penasaran aku juga mau tahu banget.
Huhhhh, sebel, bener-bener sebel. Kau tidur duluan tanpa mengajakku tidur. Aku semakin terpenjara. Leherku rasa-rasanya sudah tercekik begini. Nggak bisa bernafas bebas. Urat-urat syarafku serasa terputus. Aku nggak bisa bersenang-senang lagi.
Tengah malam kau terjaga. Aku senang. Kau pasti kasihan padaku. Mau menemaniku, bukan, seperti malam-malam kemarin? Eh, hey mengapa kau malah berbelok arah?
Yah. Tamatlah riwayatku. Lengkap sudah penderitaanku. Kamu malah ambil air wudhu. Aku baru mengerti sekarang, kau tidur di awal waktu hanya karena ingin menunaikan hajatmu, untuk kembali bersimpuh lagi. Payah kau. Sama sekali bukan Nurani yang dulu.
***
Untuk kesekian kalinya, hari ini kau sakiti aku. Kau campakkan diriku begitu saja. Tanpa perasaan. Manusia seperti apakah kau? Dengan teganya, kau usir aku dari rumahmu. Padahal aku temanmu yang selalu setia. Dan akan tetap setia. Bagaimanapun keadaanmu.
Hey, Nur kau baca apa? Telingaku panas. Aku kepanasan tinggal di rumahmu. Sudah dipenjara, kini malah kau hendak membakarku. Kau benar-benar payah. Kau tega. Kalau sikapmu seperti ini, jelas sudah kau hendak mengusirku.
Kini kau tampar aku berkali-kali dengan tangisanmu. Kau hempaskan tubuhku dengan taubat nashuha-mu. Kau putuskan urat nadiku dengan doa di sujud panjang malammu. Hingga membuat aku lemah bertambah payah. Tak kuasa. Tak berdaya.
Kau memang sudah berubah. Hampir seratus delapan puluh derajat. Sangat jauh berbeda. Kau tak peduli lagi denganku. Kau campakkan aku. Kau sakiti aku. Dan kini kau penjarakan aku dalam tembok-tembok keinginanmu. Kau ingin menjadi orang ikhlas, maka senantiasa kau luruskan niatmu. Kau ingin menjadi orang yang sabar, maka kau kuatkan kesabaranmu. Kau ingin menjadi orang yang beramal shaleh, maka kau shalehkan pribadimu, kau jaga shalat malammu, kau kendalikan nafsumu, hingga aku terpenjara. Aku semakin lemah, lemah tak berdaya.
Tapi, Nur, jangan senang dulu. Aku tak akan menyerah. Aku akan merebut perhatianmu. Tidak bisa dari depan dari belakang, tidak bisa dari kiri dari kanan. Segala cara akan aku usahakan agar kau bisa kembali menjadi temanku. Hingga rantai-rantai yang membelengguku akan terlepas bebas, dan aku bisa kembali menjadikanmu sebagai budakku.
Meski sekarang kau telah menjauhiku. Kau memusuhiku. Aku akan tetap setia mengejar mimpiku berteman denganmu. Sudah menjadi tekadku, aku harus bisa menaklukkan hatimu. Bukan hanya sekadar teman. Kalau bisa akan aku buat kau menjadikanku sebagai Tuhan. Segala-galanya.
Jujur, ini semua dikarenakan aku iri padamu. Kau diciptakan dari tanah, tapi mengapa kau lebih dimuliakan-Nya? Bahkan aku disuruh untuk bersujud pada kakek moyangmu. Adam.
Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku. Mungkin bukan hari ini, tapi esok lusa. Yang jelas aku tak akan menyerah. Cukup sehari saja kau sakiti aku. Cukup sehari saja kau merantai tangan dan kakiku. Ingat sehari saja kau membuat dadaku sesak. Tak bisa bernafas bebas. Hanya satu hari saja.
Selesai.
http://www.annida-online.com/artikel-7306-just-one-day-.html

0 komentar