Bingkisan Cinta Nenek Untukku
(Salah satu tulisan dalam buku "Penantang Mimpi")
Penulis : Wien
Nenek! Kutemukan sosokmu dalam album kenangan masa lalu. Di
setiap namamu di sebut, atau sengaja kusebut, terkuak kembali bingkisan cintamu untukku. Cucumu yang termuda usianya
yang sangat Nenek sayangi. Bukan karena hendak menganaktirikan cucu yang
lainnya ataupun pilih kasih tapi untuk menggenapkan kasih sayang dari ibuku
yang sudah lama bercerai dengan ayahku.
Bagiku, Nenek adalah orang yang sangat berjasa padaku.
Beliau lah yang merawatku menggantikan posisi Ibuku yang harus bekerja mencari
nafkah keluarga. Perhatianmu itu kurasakan begitu tulus penuh keikhlasan. Aku merasa kebaikanmu padaku melebihi
kebaikanmu pada siapapun. Sehingga seringkali membuat iri cucu-cucu Nenek yang
lain.
Aku sering menangis karena ejekan atau umpatan mereka, yang
sangat menyakitkanku. Katanya aku anak manja, anak nenek, anak yang tak tahu
diri, egois, perebut kasih sayang, dan kata-kata lain yang tak enak di dengar.
Di tengah-tengah kesedihanku itu Neneklah yang selalu
menghiburku. Membacakan cerita dongeng untukku, dan memetik hikmahnya untukku.
“Kau sudah dengar
bukan ceritanya, bagaimana seorang pemaaf itu akan menemukan kebahagiaan dalam
hidupnya, untuk itu tetaplah berbuat baik bahkan kepada orang yang membencimu
sekalipun. Walaupun mereka tetap pada perlakuan buruknya padamu, Allah yang
akan membalas semua kebaikanmu. Ingatlah Allah selalu bersama orang –orang yang
bersabar dan berbuat baik.”
Dan aku akan selalu terenyuh dengan hikmah cerita dari
Nenek. Apalagi cerita yang sering dijelaskan Nenek mirip dengan ceritaku. Yang
kurang perhatian dan kasih sayang Ayah, punya saudara tiri dan juga ibu tiri,
yang menemukan kebagiannya dalam akhir kehidupannya.
“Sesudah kesulitan itu
pasti ada kemudahan.”
Kata-kata Nenek itu selalu berbekas pada ingatanku hingga
kini. Ada satu hal yang menjadi pelengkap ingatan tentangmu. Kata Nenek aku
harus tetap berbakti kepada keempat orangtuaku, ayah, ibu, dan juga ayah dan
ibu tiriku.
Nenek selalu mengajarkan padaku arti cinta terhadap sesama.
Nenek adalah Mak Sepuh di kampungku. Yang sering menolong orang-orang yang
patah tulang atau sekedar keseleo dengan sentuhan pijatannya. Bahkan mengurusi
perawatan jenazah perempuan yaitu memandikannya.
Semua itu Nenek lakukan karena cintanya bukan semata-mata
ingin pujian atau pun penghargaan.
“Yang Nenek lakukan
adalah mengumpulkan bekal untuk kehidupan masa depan Nenek di akhirat nanti,
Nenek berusaha untuk senantiasa ikhlas dalam berbuat apapun itu, kamu harus
tahu Allah hanya akan menerima amalmu jika benar-benar dilandasi karena
Ridho-Nya.”
Aku ingat Nek, ingat dan akan selalu kuingat.
Walaupun aku sempat iri pada cucu-cucu Nenek yang lainnya.
Sebelum Nenek dipanggil oleh Tuhan, Nenek pernah berwasiat untuk memberikan
barang-barang Nenek kepada mereka, tapi tidak padaku. Aku sempat bertanya
tentang sikap Nenek yang tidak seperti biasanya.
Namun, kini aku baru paham Nek, setelah kepergian Nenek
untuk selamanya. Nenek tetap menyayangiku dan akan terus menyanyangiku. Aku
memang tak mendapatkan bingkisan barang apapun dari Nenek seperti yang lainnya,
tapi aku telah mendapatkan bingkisan yang sangat berharga melebihi bingkisan mereka,
karena bingkisan untukku itu adalah cintamu yang utuh. Dan aku akan selalu
mengenang bingkisan cinta Nenek di hatiku serta berusaha untuk membuat
bingkisan cintaku untuk keluargaku dan sahabatku.


0 komentar