Bingkisan Cinta Nenek Untukku

By Wien - 21.33




Bingkisan Cinta Nenek Untukku
(Salah satu tulisan dalam buku "Penantang Mimpi")
Penulis : Wien

Nenek! Kutemukan sosokmu dalam album kenangan masa lalu. Di setiap namamu di sebut, atau sengaja kusebut, terkuak kembali bingkisan  cintamu untukku. Cucumu yang termuda usianya yang sangat Nenek sayangi. Bukan karena hendak menganaktirikan cucu yang lainnya ataupun pilih kasih tapi untuk menggenapkan kasih sayang dari ibuku yang sudah lama bercerai dengan ayahku.

Bagiku, Nenek adalah orang yang sangat berjasa padaku. Beliau lah yang merawatku menggantikan posisi Ibuku yang harus bekerja mencari nafkah keluarga. Perhatianmu itu kurasakan begitu tulus penuh keikhlasan.  Aku merasa kebaikanmu padaku melebihi kebaikanmu pada siapapun. Sehingga seringkali membuat iri cucu-cucu Nenek yang lain.

Aku sering menangis karena ejekan atau umpatan mereka, yang sangat menyakitkanku. Katanya aku anak manja, anak nenek, anak yang tak tahu diri, egois, perebut kasih sayang, dan kata-kata lain yang tak enak di dengar.

Di tengah-tengah kesedihanku itu Neneklah yang selalu menghiburku. Membacakan cerita dongeng untukku, dan memetik hikmahnya untukku.
Kau sudah dengar bukan ceritanya, bagaimana seorang pemaaf itu akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, untuk itu tetaplah berbuat baik bahkan kepada orang yang membencimu sekalipun. Walaupun mereka tetap pada perlakuan buruknya padamu, Allah yang akan membalas semua kebaikanmu. Ingatlah Allah selalu bersama orang –orang yang bersabar dan berbuat baik.”

Dan aku akan selalu terenyuh dengan hikmah cerita dari Nenek. Apalagi cerita yang sering dijelaskan Nenek mirip dengan ceritaku. Yang kurang perhatian dan kasih sayang Ayah, punya saudara tiri dan juga ibu tiri, yang menemukan kebagiannya dalam akhir kehidupannya.

Sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.”

Kata-kata Nenek itu selalu berbekas pada ingatanku hingga kini. Ada satu hal yang menjadi pelengkap ingatan tentangmu. Kata Nenek aku harus tetap berbakti kepada keempat orangtuaku, ayah, ibu, dan juga ayah dan ibu tiriku.

Nenek selalu mengajarkan padaku arti cinta terhadap sesama. Nenek adalah Mak Sepuh di kampungku. Yang sering menolong orang-orang yang patah tulang atau sekedar keseleo dengan sentuhan pijatannya. Bahkan mengurusi perawatan jenazah perempuan yaitu memandikannya.

Semua itu Nenek lakukan karena cintanya bukan semata-mata ingin pujian atau pun penghargaan.

Yang Nenek lakukan adalah mengumpulkan bekal untuk kehidupan masa depan Nenek di akhirat nanti, Nenek berusaha untuk senantiasa ikhlas dalam berbuat apapun itu, kamu harus tahu Allah hanya akan menerima amalmu jika benar-benar dilandasi karena Ridho-Nya.”

Aku ingat Nek, ingat dan akan selalu kuingat.

Walaupun aku sempat iri pada cucu-cucu Nenek yang lainnya. Sebelum Nenek dipanggil oleh Tuhan, Nenek pernah berwasiat untuk memberikan barang-barang Nenek kepada mereka, tapi tidak padaku. Aku sempat bertanya tentang sikap Nenek yang tidak seperti biasanya.

Namun, kini aku baru paham Nek, setelah kepergian Nenek untuk selamanya. Nenek tetap menyayangiku dan akan terus menyanyangiku. Aku memang tak mendapatkan bingkisan barang apapun dari Nenek seperti yang lainnya, tapi aku telah mendapatkan bingkisan yang sangat berharga melebihi bingkisan mereka, karena bingkisan untukku itu adalah cintamu yang utuh. Dan aku akan selalu mengenang bingkisan cinta Nenek di hatiku serta berusaha untuk membuat bingkisan cintaku untuk keluargaku dan sahabatku.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar