Menjadi Wanita "Smart" Yang Mandiri

By Wien - 18.26



Menjadi wanita adalah anugrah yang sangat luar biasa. Dibalik kelemahan fisiknya Allah menitipkan ketangguhan, ketegaran, dan kesabaran. Dibalik hatinya yang sensitif Allah anugrahkan kelembutan, cinta, kasih sayang dan ketulusan. Di tangan wanitalah masa depan suatu bangsa ditentukan, bukankah baik dan buruknya generasi mendatang ditentukan oleh baik tidaknya wanita sekarang.

اَلْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلَادِ اِذَاصَلُحَتْ صَلُحَ الْبِلَادُ وَاِذَافَسَدَتْ فَسَدَ الْبِلَادُ 

“ Wanita adalah tiang negara jika wanitanya baik maka baiklah negara, dan bila wanita buruk maka negara juga ikut buruk”. 


Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita, bila didalam masyarakat pra Islam memandang kaum wanita adalah sebagai suatu barang yang tidak ada nilainya, sehingga kaum wanita boleh diperlakukan apa saja tergantung dari kaum pria. Hal ini nampak jelas bahwa sebelum nabi Muhammad lahir masyarakat Arab akan mengubur hidup-hidup setiap bayi perempuan yang lahir hal ini karena dipandang wanita tidak dapat membantu perang. 

Negara-negara didunia memandang kaum wanita dalam bentuk yang berbeda-beda, seperti di Inggis berarti behind every successful man there is always a women, di Amerika istri yang dalam bahasa Inggris adalah wife namun diartikan washing, ironing, fun, entertainment, di Jawa sebagaimana dikatakan oleh budayawan Semarang Darmanto Jatman Asah-asah, umbah-umbah, lumah-lumah. Dan dikalangan masyarakat Jawa masih banyak istilah yang lain masak macak manak atau dapur sewur dan kasur.


Kedudukan kaum wanita:

1.       Sebagai pendamping suami:

وَالْمَرْئَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِىَ مَسْؤُلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“ Dan istri adalah pengatur dalam rumah tangga suaminya, dan dia bertanggung jawab atas pengaturannya”. (HR. Buchari Muslim)

اِذَا صَلَتِ الْمَرْئَةُ خَمْسَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَاَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ اَيِّ اَبْوَابِ الْجَنَّةَ شَاءَتْ (رواه ابن حبان
“ Apabila wanita itu melakukan shalat lima waktu dan bias menjaga kehormatan dirinya serta taat kepada suaminya. Maka dia dapat memasuki surga dari segala penjuru pintunya yang ia sukai”.

2.       Sebagai ibu- penerus keturunan.

“ Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al A’rof: 189)

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ اَقْدَمِ الْاُمَّهَاتِ (رواه مسلم)

“ Surga dibawah telapak kaki ibu”.

Dengan demikian Allah memberikan keutamaan ibu diatas  ayah, sebagaimana sabda ketika suatu saat sahabat bertanya kepada rasul tentang kepada siapa yang lebih utama untuk berbuat baik:

يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوْكَ

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Karena itu wanita yang paling berperan didalam kehidupan rumah tangga, karena dalam diri wanita mempunyai peran ganda dalam kehidupan rumah tangga, yaitu mengandung, melahirkan, mendidik, mengasuh dan membesarkan. Sehingga kedekatan seorang anak akan lebih dominan kepada seorang ibu, setiap perbuatan inipun akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah SWT. 

Karena peran tersebut juga wanita mau tak mau harus "Smart" dan "Mandiri".  Bukankah dalam mendidik itu perlu "Ilmu". Mengasuh, membesarkan anak-anak juga perlu "Ilmu". Menjadi pendamping suami juga perlu "Ilmu". Menjadi wanita memang harus "Smart", dia harus menguasai ilmu tentang pendidikan, komunikasi (agar komunikasi keluarga lancar), psikologi (agar memahami bagaimana cara bersikap baik dan memahami aspek kejiwaan keluarga), ekonomi, managemen, dsb. Sebenarnya banyak lagi ilmu-ilmu yang harus dikuasai wanita untuk membantu agar wanita tersebut bisa menunaikan tugas dan kewajibannya.

Dan ilmu-ilmu tersebut tidak harus dikuasai di bangku-bangku resmi lembaga pendidikan. Dengan banyak membaca maka wanita bisa menguasai semuanya. Belajar juga pada pengalaman-pengalaman berharga orang lain. Begitu banyak hikmah yang terserak yang sebenarnya sangat berharga buat pembelajaran hidup kita. Belajarlah tanpa batas, di sela-sela kesibukan kita, kapan pun, dimana pun, "life  long education".

Menjadi wanita juga harus mandiri. Jangan karena suami atau orang tuanya “berada” bisa mencukupi semua kebutuhannya, lantas ia berdiam diri, berpangku tangan begitu saja. Tidak! Dan jangan sekali-kali begitu. Alangkah baiknya wanita juga mempunyai sumber pendapatan sendiri. Bukankah dengan mempunyai pendapatan sendiri, seorang wanita itu bisa meringankan beban hidup penanggung jawabnya, bisa beramal baik, bersedekah, berinfak, hasil dari jerih payahnya sendiri.

"Mandiri" bukan berarti wanita harus bersusah payah menjemput rezeki ke luar rumah. Menelantarkan anak, dan menimbulkan fitnah. Di zaman serba modern ini, semua bis dilakukan hanya di dalam rumah. Full house tapi mempunyai penghasilan yang lumayan.

Salah satunya adalah dengan mengembangkan hobi kita. Begitu banyak cerita orang-orang yang awalnya dari hobi menjadi sumber rezeki. Kerajinan tangan, aneka masakan (kue dsb), tata busana, dan masih banyak lagi. Dengan adanya internet sebenarnya kita juga dipermudah untuk pendistribusiannya. Jualan online, misalnya. Atau mau jadi penulis? Wuah itu luar biasa, selain ikut berkontribusi menyampaikan ide atau gagasan yang mungkin sangat brilian, kita juga bisa mendapat "bonus" uang. 

Jadi, kesimpulannya, menjadi wanita "smart " dan mandiri, itu sebenarnya tidaklah susah, yang terpenting kembali kepada keyakinan dan komitmen diri kita sendiri. 

SELAMAT MENCOBA DAN BUKTIKAN KITA BISA, INSYA ALLAH



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar