Time Limit
(Dimuat di Annida Online 07 Mei 2013 )
Penulis : Wien
Dia kembali datang.
Membawa cerita-cerita pengingat kematian. Walaupun banyak yang tak paham. Dia
tetap tak sungkan, menyambangi pintu-pintu hati yang terkunci nafsu duniawi.
Tak ada
yang salah dengannya. Dia hanya seorang utusan, yang setia menunaikan tugas.
Bukan sekali dua kali, mampir ke kampung halaman kami. Walaupun hanya sebentar,
namun sanggup membuat jantungku berdegup kencang.
Dia itu
sangat tegas. Pada siapapun. Tak pandang bulu, harta, apalagi jabatan. Kaya
miskin, tua muda, laki perempuan, semua sama saja. Bagi siapa yang menghutang,
jika tempo sudah berakhir, maka tak ada lagi pilihan.
Dan hari
ini dia menyambangi rumah tetanggaku. Daftar kesekian dari orang-orang yang
lalai. Entah apa yang dilakukan, yang jelas aku mendengar teriakan histeris
seorang wanita dari dalam rumah. Membuat bulu kudukku berdiri. Keringat
mengalir deras. Hampir saja aku sesak. Nafasku berat. Suara pun ikut tercekat.
“Mungkin
besok atau lusa adalah giliranku! Aku belum bisa membayar semua
hutang-hutangku. Aku takut. Sungguh sangat takut.”
Dari
balik jendela, kuintip keadaan di sekitar rumahnya yang hanya berjarak dua
meter dari rumahku. Kulihat Ibu dan Bapak sudah ada di teras bersama yang
lainnya. Pasti semua orang yang mendengar teriakan itu penasaran. Ingin tahu
apa yang terjadi.
Terpaku.
Sekujur tubuhku membeku. Aku tak mau melihatnya. Aku takut bertemu dengan sang
utusan itu. Bagaimana kalau dia mempercepat waktuku untuk mengakhiri semuanya? Padahal hutang yang seharusnya kujadikan modal
peruntunganku, malah kuhamburkan percuma.
Memang
jika kuhitung-hitung perniagaaanku merugi. Modalku digunakan tak tepat sasaran.
Tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan.
“Dia telah
membunuhnya!”
“Dia
telah membunuhnya!”
Beberapa
orang berkata, yang kudengar bagai semilir angin yang makin menggigilkan.
“Innalillaahi
wa inna ilaihi rajiun.” Terucap dari suara Ibuku yang serak.
Ibu
tolong jangan diam di sana! Aku takut, bagaimana kalau Ibu bertemu dengannya?
Bukankah ibu tahu, ibu juga ada dalam daftar catatan sang utusan?
Ibu malah
mendekati pintu. Mengikuti langkah Bapak yang mendahului. Aku harus mencegah
mereka. Hal serupa tak boleh terjadi pada kedua orang tuaku. Aku sangat mencintai
mereka. Aku belum siap berpisah dengan dua orang yang sangat menyayangiku. Ibu
tak boleh mati sekarang, Bapak juga. Namun, apa daya hanya sekedar angan
belaka. Keberanianku meredup, seiring kidung hati yang memekik. Nyeri.
Pikiranku
berkata-kata. Mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. “Uh, mengapa
juga tak ada seorang pun yang berani kepadanya? Mencegah semua perbuatannya. “
“Kemana
semua aparat keamanan? Para pengurus, pengayom dan pengabdi masyarakat? Mengapa
mereka diam saja?”
“Mana
bukti janji – janji mereka? Katanya mau melindungi, memberikan rasa aman, akan
selalu berupaya demi ketentraman dan kesejahteraan?”
Ah
bulsit. Semua hanya penipu. Demi sebuah posisi mereka tega-teganya menjual
mimpi-mimpi palsu. Kata-kata indah itu hanya slogan belaka. Apakah mereka tidak
tahu, janji adalah hutang. Semua yang pernah dikatakannya pasti akan diminta
pertanggungjawaban. Lihat saja nanti!
Dimana
tangan-tangan kekuasaan mereka?
Yang
katanya bisa membeli apa saja. Termasuk mempermainkan kehidupan seseorang.
Dengan mudahnya mereka menjungkirbalikkan kenyataan. Memutarbalikkan fakta
karena egois semata. Yang penting dirinya selamat. Yang lain bukan urusannya.
Jika saja
sang utusan itu menyambangi mereka. Memeluk erat dalam setiap darah hitam milik
mereka. Atau sekedar bertengger dalam tenggorokan. Dengan mudahnya mereka
mengusirnya dengan uang, sebelum sang utusan menuntaskan perkara dengan
memberikan kesakitan yang bertambah parah, hingga ada yang sampai di pintu ajal
dunia.
Dalam
keremangan aku melihatnya. Dia penyebab kematian tetanggaku, sahabat-sahabatku,
dengan ringannya melangkah menghampiriku. Wajah penuh tanpa dosa.
Kurasa
dia memang tak berdosa sama sekali. Semua yang dilakukannya hanyalah satu tugas
dari sekian banyak tugas-tugasnya. Tapi, tetap saja bagiku dia sosok yang
sangat menakutkan.
“Itulah
akibat bagi orang-orang yang menyepelekan hutang?”
Aku
tersiap. Tubuhku semakin menciut. Kulit dan tulang merapat dekap.
“Hey,
kamu sebentar lagi adalah giliranmu!”
“Maksudmu
apa?” Setengah mati kukumpulkan semua tenagaku. Aku harus berani. Aku tak boleh
menyerah begitu saja.
“Aku
bukan menakut-nakutimu, tapi terimalah kenyataan, sebentar lagi memang
giliranmu.”
Setengah
tak percaya Kutatap dia dengan kebisuan. Benarkah itu? Benarkan waktu jatuh tempoku
tak akan lama lagi?
Tubuhku
gemetar. Persendian ikut berguncang. Hawa panas dingin menjalar di sekujur
tubuhku. Sepertinya aku demam. Bukan itu saja kepalaku pusing bukan kepalang.
Berat serasa ada beribu-ribu palu menggedor-gedor batang kepalaku. Ibu tolong
aku. Cepat pulang Bu!
“Kuperingatkan
kepadamu lambat laun waktumu habis juga. Semua hutang-hutangmu harus segera kau
lunasi. Kalau memang tak mau mati menggenaskan seperti mereka.”
Kugelengkan
kepalaku berkali-kali. Bergidik ngeri. Aku tak mau seperti mereka. Aku memang
ingin mati dengan takdir-Nya. Namun aku ingin berada dalam keridhoan-Nya.
“Kalau
begitu lunasi semua hutangmu.” Dia menegaskan, seperti bisa membaca pikiranku.
Semenjak
peristiwa yang sangat menegangkan itu, hari-hariku menjadi kelabu. Rasa-rasanya
sudah tak ada semangat lagi untuk menjalani drama kehidupanku. Yang ada dalam
benakku hanyalah semua hutang-hutangku.
Hutangku
memang bukan padanya. Tak berupa uang. Bukan pula barang-barang kreditan.
Seperti yang lainnya. Hutang itu berwujud ucap janji yang memang mau tak mau
harus dilunasi.
Aku
memang tak begitu mengingat kapan perjanjian itu dilakukan. Tapi bukti di surat
tertulis, nyata-nyata disebutkan akan janjiku, janji semua orang. Belum lagi
dalam rutinitasku yang kulakukan lima kali dalam sehari. Jelas sudah aku memang
telah berikrar.
Dengan
peristiwa itu aku kembali diingatkan akan tempo yang diberikan. Hanya sebentar.
Bukan hitungan tahun, bulan, hari, ataupun menit. Karena memang waktuku hanya
sekejap mata. Dan itu hanya bisa disadari kelak di hidupku kedua.
Namun
seiring kesibukanku, aku hampir selalu melupakan. Padahal seharusnya aku
mempersiapkannya walaupun tak luang. Mengumpulkan bekal sedikit demi sedikit. Janji
adalah janji, tak ada hal apapun yang bisa kujadikan alasan, mengapa janji tak
ditepati..
Jujur aku
memang sudah terpesona rayu bujuk dunia yang menipu. Dengan segala keindahan
dan kenyamanan yang ditawarkan, aku terlena. Aku terlupa. Padahal itu sesuatu
yang sangat berharga. Peruntunganku, nasibku berada ditanganku sendiri.
Di surat
itu tertulis akan ikrar semua manusia sanggup mengemban amanah. Padahal langit,
gunung pun bumi tak sanggung menemikulnya. Berbakti jiwa raga. Berjuang segenap
asa. Karena memang pemilik surat itu adalah sang pencipta.
Malam
semakin larut. Melarutkan setiap episode yang kulakoni. Meski terkubur
ingatanku tak bisa kabur.
Dalam
kesakitan yang bertambah parah, slide-slide memoriku berputar. Aku bisa
melihatnya. Dosa-dosa yang telah kulakukan. Berbohong, berprasangka jelek, iri
hingga dendam yang kusimpan rapat-rapat dalam gumpalan berselimut tulang
belulang.
Tubuhku melayu.
Kelopak mata tenggelam. Cekungan pipi mendalam.
Aku merintih kesakitan. Lemah, lunglai, karena tak ada lagi makanan yang tembus
kerongkongan. Sakit yang bertambah parah selama sebulan ini, merekatkanku
dengannya. Di alam sadarku, dia semakin bercengkrama. Ingin kuusir dia dari
rumahku. Apa daya, tenagaku tak ada.
Bukankah
untuk sekedar memiringkan badan aku harus dibantu kedua tangan ibuku. Aku
memang memasuki lorong waktu silam. Kembali semula. Bagai bayi merah yang
beberapa hari saja menghirup udara.
Payah,
benar-benar payah,
Kini
dalam kesakitan aku menggerutu. Mengapa aku tak segera memperbaiki semuanya? Terutama
amalku. Melunasi semua hutang sekemampuanku. Padahal isyarat itu telah ada.
Pengingat itu selalu mampir di telinga dan kedua mata ini. Tentang kematian
sahabat-sahabatku sesama pengagum dunia. Namun aku hampir selalu lupa kampung
masa depanku.
Padahal
dia ketika tetanggaku meninggal dunia, telah mengingatkanku dengan segala
pertandanya. Bahkan sebelumnya juga. Dia yang tak lain jiwa dari kesakitan ini.
Sudah berkali-kali memperingatiku dengan memamerkan segala gigi-giginya yang
meruncing, menggigiti otak kepalaku.
Yah, ini
semua karena sikapku yang bodoh. Tak mau mengambil hikmah dari setiap kejadian
yang menimpaku. Ketika kanker otak menyerang, seharusnya aku tahu isyarat ini. Time
limit-ku tinggal sebentar lagi.
Dalam kesakitanku
yang bertambah payah. Kini aku tak ada daya untuk sekedar membayar hutangku
mesti hanya sebagian saja.
“Inna
sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin.”
Tak bisa
tertahan lagi, air mataku berlinang diiringi tangisan ibu yang kini mengencang.
“Laa illaaha
illallaah muhammadur rosulullaah.” Ibu berbisik di telingaku. Membimbing
lidahku yang kelu.
Sekuat
daya yang tersisa, aku gerakkan mulutku yang mulai kaku. Namun, suara itu
tercekat entah dimana.
Rumah Maya, 2013
http://www.annida-online.com/artikel-7404-time-limit.html


0 komentar