Time Limit

By Wien - 17.35


Time Limit
(Dimuat di Annida Online 07 Mei 2013 )
Penulis : Wien


Dia kembali datang. Membawa cerita-cerita pengingat kematian. Walaupun banyak yang tak paham. Dia tetap tak sungkan, menyambangi pintu-pintu hati yang terkunci nafsu duniawi.

Tak ada yang salah dengannya. Dia hanya seorang utusan, yang setia menunaikan tugas. Bukan sekali dua kali, mampir ke kampung halaman kami. Walaupun hanya sebentar, namun sanggup membuat jantungku berdegup kencang.

Dia itu sangat tegas. Pada siapapun. Tak pandang bulu, harta, apalagi jabatan. Kaya miskin, tua muda, laki perempuan, semua sama saja. Bagi siapa yang menghutang, jika tempo sudah berakhir, maka tak ada lagi pilihan.

Dan hari ini dia menyambangi rumah tetanggaku. Daftar kesekian dari orang-orang yang lalai. Entah apa yang dilakukan, yang jelas aku mendengar teriakan histeris seorang wanita dari dalam rumah. Membuat bulu kudukku berdiri. Keringat mengalir deras. Hampir saja aku sesak. Nafasku berat. Suara pun ikut tercekat.

“Mungkin besok atau lusa adalah giliranku! Aku belum bisa membayar semua hutang-hutangku. Aku takut. Sungguh sangat takut.”

Dari balik jendela, kuintip keadaan di sekitar rumahnya yang hanya berjarak dua meter dari rumahku. Kulihat Ibu dan Bapak sudah ada di teras bersama yang lainnya. Pasti semua orang yang mendengar teriakan itu penasaran. Ingin tahu apa yang terjadi.

Terpaku. Sekujur tubuhku membeku. Aku tak mau melihatnya. Aku takut bertemu dengan sang utusan itu. Bagaimana kalau dia mempercepat waktuku untuk mengakhiri semuanya?  Padahal hutang yang seharusnya kujadikan modal peruntunganku, malah kuhamburkan percuma.

Memang jika kuhitung-hitung perniagaaanku merugi. Modalku digunakan tak tepat sasaran. Tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan.

“Dia telah membunuhnya!”

“Dia telah membunuhnya!”

Beberapa orang berkata, yang kudengar bagai semilir angin yang makin menggigilkan.
“Innalillaahi wa inna ilaihi rajiun.” Terucap dari suara Ibuku yang serak.

Ibu tolong jangan diam di sana! Aku takut, bagaimana kalau Ibu bertemu dengannya? 

Bukankah ibu tahu, ibu juga ada dalam daftar catatan sang utusan?

Ibu malah mendekati pintu. Mengikuti langkah Bapak yang mendahului. Aku harus mencegah mereka. Hal serupa tak boleh terjadi pada kedua orang tuaku. Aku sangat mencintai mereka. Aku belum siap berpisah dengan dua orang yang sangat menyayangiku. Ibu tak boleh mati sekarang, Bapak juga. Namun, apa daya hanya sekedar angan belaka. Keberanianku meredup, seiring kidung hati yang memekik. Nyeri.

Pikiranku berkata-kata. Mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. “Uh, mengapa juga tak ada seorang pun yang berani kepadanya? Mencegah semua perbuatannya. “

“Kemana semua aparat keamanan? Para pengurus, pengayom dan pengabdi masyarakat? Mengapa mereka diam saja?”

“Mana bukti janji – janji mereka? Katanya mau melindungi, memberikan rasa aman, akan selalu berupaya demi ketentraman dan kesejahteraan?”

Ah bulsit. Semua hanya penipu. Demi sebuah posisi mereka tega-teganya menjual mimpi-mimpi palsu. Kata-kata indah itu hanya slogan belaka. Apakah mereka tidak tahu, janji adalah hutang. Semua yang pernah dikatakannya pasti akan diminta pertanggungjawaban. Lihat saja nanti!

Dimana tangan-tangan kekuasaan mereka?

Yang katanya bisa membeli apa saja. Termasuk mempermainkan kehidupan seseorang. Dengan mudahnya mereka menjungkirbalikkan kenyataan. Memutarbalikkan fakta karena egois semata. Yang penting dirinya selamat. Yang lain bukan urusannya.

Jika saja sang utusan itu menyambangi mereka. Memeluk erat dalam setiap darah hitam milik mereka. Atau sekedar bertengger dalam tenggorokan. Dengan mudahnya mereka mengusirnya dengan uang, sebelum sang utusan menuntaskan perkara dengan memberikan kesakitan yang bertambah parah, hingga ada yang sampai di pintu ajal dunia.


Dalam keremangan aku melihatnya. Dia penyebab kematian tetanggaku, sahabat-sahabatku, dengan ringannya melangkah menghampiriku. Wajah penuh tanpa dosa.
Kurasa dia memang tak berdosa sama sekali. Semua yang dilakukannya hanyalah satu tugas dari sekian banyak tugas-tugasnya. Tapi, tetap saja bagiku dia sosok yang sangat menakutkan.

“Itulah akibat bagi orang-orang yang menyepelekan hutang?”

Aku tersiap. Tubuhku semakin menciut. Kulit dan tulang merapat dekap.

“Hey, kamu sebentar lagi adalah giliranmu!”

“Maksudmu apa?” Setengah mati kukumpulkan semua tenagaku. Aku harus berani. Aku tak boleh menyerah begitu saja.

“Aku bukan menakut-nakutimu, tapi terimalah kenyataan, sebentar lagi memang giliranmu.”
Setengah tak percaya Kutatap dia dengan kebisuan. Benarkah itu? Benarkan waktu jatuh tempoku tak akan lama lagi?

Tubuhku gemetar. Persendian ikut berguncang. Hawa panas dingin menjalar di sekujur tubuhku. Sepertinya aku demam. Bukan itu saja kepalaku pusing bukan kepalang. Berat serasa ada beribu-ribu palu menggedor-gedor batang kepalaku. Ibu tolong aku. Cepat pulang Bu!

“Kuperingatkan kepadamu lambat laun waktumu habis juga. Semua hutang-hutangmu harus segera kau lunasi. Kalau memang tak mau mati menggenaskan seperti mereka.”

Kugelengkan kepalaku berkali-kali. Bergidik ngeri. Aku tak mau seperti mereka. Aku memang ingin mati dengan takdir-Nya. Namun aku ingin berada dalam keridhoan-Nya.
“Kalau begitu lunasi semua hutangmu.” Dia menegaskan, seperti bisa membaca pikiranku.
Semenjak peristiwa yang sangat menegangkan itu, hari-hariku menjadi kelabu. Rasa-rasanya sudah tak ada semangat lagi untuk menjalani drama kehidupanku. Yang ada dalam benakku hanyalah semua hutang-hutangku.

Hutangku memang bukan padanya. Tak berupa uang. Bukan pula barang-barang kreditan. Seperti yang lainnya. Hutang itu berwujud ucap janji yang memang mau tak mau harus dilunasi.

Aku memang tak begitu mengingat kapan perjanjian itu dilakukan. Tapi bukti di surat tertulis, nyata-nyata disebutkan akan janjiku, janji semua orang. Belum lagi dalam rutinitasku yang kulakukan lima kali dalam sehari. Jelas sudah aku memang telah berikrar.
Dengan peristiwa itu aku kembali diingatkan akan tempo yang diberikan. Hanya sebentar. Bukan hitungan tahun, bulan, hari, ataupun menit. Karena memang waktuku hanya sekejap mata. Dan itu hanya bisa disadari kelak di hidupku kedua.

Namun seiring kesibukanku, aku hampir selalu melupakan. Padahal seharusnya aku mempersiapkannya walaupun tak luang. Mengumpulkan bekal sedikit demi sedikit. Janji adalah janji, tak ada hal apapun yang bisa kujadikan alasan, mengapa janji tak ditepati..
Jujur aku memang sudah terpesona rayu bujuk dunia yang menipu. Dengan segala keindahan dan kenyamanan yang ditawarkan, aku terlena. Aku terlupa. Padahal itu sesuatu yang sangat berharga. Peruntunganku, nasibku berada ditanganku sendiri.

Di surat itu tertulis akan ikrar semua manusia sanggup mengemban amanah. Padahal langit, gunung pun bumi tak sanggung menemikulnya. Berbakti jiwa raga. Berjuang segenap asa. Karena memang pemilik surat itu adalah sang pencipta.

Malam semakin larut. Melarutkan setiap episode yang kulakoni. Meski terkubur ingatanku tak bisa kabur.

Dalam kesakitan yang bertambah parah, slide-slide memoriku berputar. Aku bisa melihatnya. Dosa-dosa yang telah kulakukan. Berbohong, berprasangka jelek, iri hingga dendam yang kusimpan rapat-rapat dalam gumpalan berselimut tulang belulang.
Tubuhku melayu. Kelopak mata tenggelam. Cekungan pipi mendalam.

Aku merintih kesakitan. Lemah, lunglai, karena tak ada lagi makanan yang tembus kerongkongan. Sakit yang bertambah parah selama sebulan ini, merekatkanku dengannya. Di alam sadarku, dia semakin bercengkrama. Ingin kuusir dia dari rumahku. Apa daya, tenagaku tak ada.

Bukankah untuk sekedar memiringkan badan aku harus dibantu kedua tangan ibuku. Aku memang memasuki lorong waktu silam. Kembali semula. Bagai bayi merah yang beberapa hari saja menghirup udara.
Payah, benar-benar payah,

Kini dalam kesakitan aku menggerutu. Mengapa aku tak segera memperbaiki semuanya? Terutama amalku. Melunasi semua hutang sekemampuanku. Padahal isyarat itu telah ada. Pengingat itu selalu mampir di telinga dan kedua mata ini. Tentang kematian sahabat-sahabatku sesama pengagum dunia. Namun aku hampir selalu lupa kampung masa depanku.
Padahal dia ketika tetanggaku meninggal dunia, telah mengingatkanku dengan segala pertandanya. Bahkan sebelumnya juga. Dia yang tak lain jiwa dari kesakitan ini. Sudah berkali-kali memperingatiku dengan memamerkan segala gigi-giginya yang meruncing, menggigiti otak  kepalaku.

Yah, ini semua karena sikapku yang bodoh. Tak mau mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpaku. Ketika kanker otak menyerang, seharusnya aku tahu isyarat ini. Time limit-ku tinggal sebentar lagi.

Dalam kesakitanku yang bertambah payah. Kini aku tak ada daya untuk sekedar membayar hutangku mesti hanya sebagian saja.

“Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin.”

Tak bisa tertahan lagi, air mataku berlinang diiringi tangisan ibu yang kini mengencang.

“Laa illaaha illallaah muhammadur rosulullaah.” Ibu berbisik di telingaku. Membimbing lidahku yang kelu.

Sekuat daya yang tersisa, aku gerakkan mulutku yang mulai kaku. Namun, suara itu tercekat entah dimana.

Rumah Maya, 2013

http://www.annida-online.com/artikel-7404-time-limit.html



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar